Pahala Kemuliaan Bagi Yang Menunggu Suatu Kemuliaan

قَالَ أَنَسُ ابنُ مَالِك رَضِيَ اللهُ عَنْهُ :
انْتَظَرْنَا النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ذَاتَ لَيْلَةٍ حَتَّى كاَنَ شَطْرُ اللَّيْلِ يَبْلُغُهُ فَجَاءَ فَصَلَّى لَنَا ثُمَّ خَطَبَنَا وَقاَلَ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: أَلَا إِنَّ النَّاسَ قَدْ صَلُّوْا ثُمَّ رَقَدُوْا وَإِنَّكُمْ لَمْ تَزَالُوْا فِي صَلَاةٍ مَا انْتَظَرْتُمُ الصَّلَاةَ، قَالَ الْحَسَنُ رَضيَ اللهُ عَنْهُ وَإِنَّ اْلقَوْمَ لَا يَزَالُوْنَ بِخَيْرٍ مَا انْتَظَرُوْا الْخَيْرَ( صحيح البخاري )

” Berkata anas bin malik ra : Kami menanti nabi saw pd suatu malam (untuk shalat isya), hingga mencapai tengah malam, maka beliau saw keluar lalu bersabda pada kami : “Sungguh orang orang telah shalat dan telah tidur, dan kalian masih terus dalam pahala shalat”. Dan berkata Al Hasan : dan suatu kaum masih terus dalam pahala kemuliaan selama menunggu kemuliaan.” (Shahih Bukhari)

ImageAssalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh

حَمْدًا لِرَبٍّ خَصَّنَا بِمُحَمَّدٍ وَأَنْقَذَنَا مِنْ ظُلْمَةِ الْجَهْلِ وَالدَّيَاجِرِ اَلْحَمْدُلِلّهِ الَّذِيْ هَدَاناَ بِعَبْدِهِ الْمُخْتَارِ مَنْ دَعَانَا إِلَيْهِ بِاْلإِذْنِ وَقَدْ ناَدَانَا لَبَّيْكَ ياَ مَنْ دَلَّنَا وَحَدَانَا صَلَّى اللهُ وَسَلّمَّ وَبَارَكَ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ اَلْحَمْدُلِلّهِ الَّذِيْ جَمَعَنَا فِي هَذَا الْمَجْمَعِ اْلكَرِيْمِ وَفِيْ هَذَا الْجَمْعِ اْلعَظِيْمِ

Limpahan puji kehadirat Allah subhanahu wata’ala Maha Raja alam semesta, Maha Penguasa setiap ruh dan jiwa, Maha Melimpahkan Keluhuran sepanjang waktu dan zaman, cahaya kebahagiaan yang abadi, cahaya kemuliaan yang abadi, cahaya anugerah yang kekal, cahaya keluhuran yang kekal, Maha Suci Allah Sang Maha penerang langit dan bumi dengan cahaya zhahir dan bathin, cahaya yang menerangi jiwa dengan khusyu’ dan kemuliaan, segala sifat-sifat yang luhur terbit dari Sang Maha bercahaya yang menerbitkannya dari matahari-Nya, sang matahari risalah yang diciptakan untuk menerangi hamba-hamba-Nya dengan cahaya dunia dan akhirah, sayyidina Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam, cahaya kebahagiaan dunia dan akhirah yang diterbitkan oleh Allah, matahari ciptaan-Nya, kekasih-Nya, yang membawa kepada terang benderang kehidupan dunia dan akhirah, sayyidina Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam. Maha Suci Allah, cahaya yang abadi, cahaya kemuliaan, cahaya cinta dan kelembutan yang kekal..

Hadirin hadirat yang dimuliakan Allah
Panggilan kelembutan Allah tiada pernah terputus sepanjang waktu dan zaman melalui para nabi dan rasul, dan Allah jadikan pula seluruh alam jagad raya ini sebagai seruan yang mengundang hamba-hamba-Nya untuk menuju dan mengenal Sang Pencipta, pencipta langit dan bumi serta seluruh alam semesta, semakin seseorang mendalami ilmu dunia atau ilmu akhirah dengan hati yang suci, maka mereka akan menemukan Allah. Dan keagungan-Nya ada dalam setiap butiran sel di alam semesta yang merupakan lambang keagungan Ilahi. Mereka akan menemukan kemuliaan tuntunan sayyidina Muhammad, dan kesempurnaan tuntunan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam di dalam semua ilmu yang mereka pelajari. Maka sungguh beruntung mereka yang mengikuti tuntunan nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam, beruntung mereka yang mempelajari mutiara-mutiara luhur yang disampaikan oleh sayyidina Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam. Allah subhanahu wata’ala berfirman:

وَمَنْ يَتَّقِ اللَّهَ يَجْعَلْ لَهُ مَخْرَجًا، وَيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُ ( الطلاق: 2-3 )

” Barangsiapa yang bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan memberinya jalan penyelesaian, dan memberinya rezeki dari yang tiada disangka-sangkanya “. ( QS. At Thalaq: 2-3 )

Sang Maha Mulia dan Maha Bercahaya, Sang Maha Dermawan dan Maha melimpahkan anugerah sepanjang masa hingga masa berakhir dan bermula masa yang abadi dan kekal, Sang Maha pemilik kebahagiaan hidup, Sang Maha pemilik kebahagiaan dunia dan akhirah, Sang Maha pemilik dan yang melimpahkan anugerah dunia dan akhirah berfirman: ” Barangsiapa yang bertakwa kepada Allah subhanahu wata’ala, maka Allah menjadikan baginya penyelesaian dari segala masalah dan kesulitan, dan Allah berikan ia rizki dari hal yang tidak ia sangka-sangka”, apakah hal ini benar? Inilah berita yang paling benar dari semua berita yang kita dengar. Terkadang berita yang kita dengar lebih banyak kita percaya daripada berita dari Sang pemilik alam semesta, tidak sepantasnya hal itu terjadi. Kita harus lebih percaya terhadap berita yang datang dari Allah daripada berita yang datang dari media atau makhluk. Berita ini datang dari Sang pencipta jagad raya yang mencipta alam dari tiada dan yang selalu siap melimpahkan anugerah yang kekal bagi hamba-hamba-Nya yang mulia, yang mau mendekat kepada kemuliaan dan mau mencintai hamba-hamba-Nya yang mulia. Firman Allah subhanahu wata’ala: ” Barangsiapa yang bertakwa kepada Allah”, apakah takwa itu? Takwa adalah berusaha semampunya menjalankan perintah Allah, dan berusaha semampunya menghindari larangan Allah, beristighfar jika terjebak dalam dosa serta bersyukur jika berhasil taat kepada Allah. Tetapi jika lebih diringkas lagi makna takwa adalah mengikuti sayyidina Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam, dan yang selain itu tidaklah dinamakan takwa.

Hadirin hadirat yang dimuliakan Allah
Barangsiapa yang mengikuti sayyidina Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam, mencintai Rasulullah, memuliakan Rasulullah, merindukan Rasulullah dan mengikuti apa yang diajarkan sang nabi semampunya, maka akan Allah limpahkan rizki dan penyelesaian dari segala kesulitan, dan yang berkata adalah Sang pemilik rizki dan kemuliaan, yang berbicara adalah Allah Rabbul ‘alamin, akan ditumpahruahkan kemuliaan untuk para pecinta sayyidina Muhammad, setiap masalah apapun akan diselesaikan, dan akan diberikan rizki yang seluas-luasnya, untuk siapa? untuk yang bertakwa, siapa yang bertakwa? mereka yang mencintai dan mengikuti tuntunan sayyidina Muhammad Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, Khazinah Allah yaitu pendaman keluhuran Allah. Yang telah diperjelas dengan firman-Nya subhanahu wata’ala:

وَمَا أَرْسَلْنَاكَ إِلَّا رَحْمَةً لِلْعَالَمِينَ ( الأنبياء : 107 )

” Dan tiadalah Kami mengutusmu, melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam”. ( QS.Al Anbiya’: 107 )

Maka semakin kita mendekat kepada sang rahmat ini, semakin tercurahkanlah rahmat dari Allah untuk kita, di alam kehidupan, di alam kematian, di alam barzakh, di alam dunia dan akhirah akan dipenuhi dengan rahmah dan keluhuran, jika kita mengikuti Shahib Ar Rahmah, sayyidina Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam. Dan jika lepas dari tuntunan sang nabi maka bersiaplah dihadapanmu limpahan musibah menanti dalam kehidupanmu di alam dunia, alam barzakh dan yaumul qiyamah. Jika mengikuti tuntunan sang nabi maka bersiaplah dihadapanmu limpahan anugerah dalam kehidupanmu di alam dunia, di alam barzakh dan hari kiamat. Inilah rahmatan lil’alamin, Muhammad Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Hadirin hadirat, firman Allah subhanahu wata’ala:

وَيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُ ( الطلاق: 3 )

“dan memberinya rezeki dari arah yang tiada disangka-sangkanya “. ( QS. At Thalaq: 3)

Diberikan oleh Allah subhanahu wata’ala rizki yang zhahir seperti masalah rumah tangga dipermudah, masalah harta dipermudah, masalah pekerjaan dipermudah. Dan diberikan pula rizki yang bathin seperti seseorang yang mengeluh: ” saya pendosa, siang dan malam selalu berbuat dosa, tetapi hati saya masih dipenuhi cinta kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dan saya berusaha semampunya untuk taat kepada Allah tetapi masih banyak yang tidak mampu untuk saya lakukan”, maka tanpa ia sadari suatu saat akan datang kepadanya hidayah, berbalik hari-harinya dan ia berubah menjadi orang yang lebih shalih dari orang-orang shalih yang ia lihat sebelumnya. Allah bisa menumpahkan cahaya hidayah sehingga ia bisa mulia dan luhur karena budi pekertinya atau karena niat baiknya, Allah mampu menjadikannya terlimpahkan kemuliaan dengan dia berusaha bertakwa kepada Allah, semampunya ia hadir di majelis ta’lim, semampunya hadir di majelis dzikir, semampunya melakukan shalat lima waktu, semampunya melakukan hal-hal yang diperintah oleh Allah, semampunya meninggalakan hal-hal yang dilarang oleh Allah, kemudian memohonlah dan memintalah dengan segala kelemahan kita:” Rabbi dengan segala kelemahanku, jika aku mampu maka tidak satu dosa pun yang akan kulakukan wahai Allah, kalau aku mampu maka siang dan malamku hanya untuk Engkau wahai Rabbi, namun hamba yang lemah dan penuh dosa ini. Kau telah menciptakan manusia dalam keadaan lemah, Wahai Rabbi Engkau Maha Kuat maka bantulah aku yang lemah ini, segala amal-amalku yang buruk gantilah dengan kemuliaan , maka hl yang seperti sangatlah mudah bagi Yang Maha Dermawan, Allah Rabbul ‘Alamin.

Hadirin hadirat yang dimuliakan Allah
Dikatakan oleh Syaikh Abdullah Basaudan dalam rangkaian hadrahnya:

يَارَبِّ مَا مَعَنَا عَمَلْ * وَكَسْبُنَا كُلُّهُ زَلَلْ لَكِنْ لَنَا فِيْكَ أَمَلْ * تُحْيِي اْلعِظَامَ الرَّامَّةْ

“Amal-amal kami tiada artinya dibanding kenikmatan yang Engkau berikan, tetapi kami mempunyai cita-cita karena Engkau mampu menghidupakan kembali tulang-tulang yang sudah menjadi tanah”. Allah mampu menghidupkan kembali tulang-tulang yang sudah membusuk dan hancur menjadi tanah muncul lagi menjadi jasad yang sempurna. Bahkan dari sebutir sel, Allah tumbuhkan menjadi manusia yang bergerak, mendengar, melihat, berkuasa, zhalim, shalih, dan berbuat segala sesuatu di dunia ini adalah dari sebutir sel yang tidak terlihat mata. Allah bisa melipatgandakan apa yang kita miliki dari ketakwaan kita yang sedikit, Allah bisa angkat dan tumbuhkan dengan niat mulia kita hingga menjadi besar dan agung.

Hadirin hadirat yang dimuliakan Allah, Allah subhanahu wata’ala juga berfirman:

وَمَنْ يَتَّقِ اللَّهَ يَجْعَلْ لَهُ مِنْ أَمْرِهِ يُسْرًا( الطلاق: 4 )

” Dan barangsiapa yang bertakwa kepada Allah niscaya Allah menjadikan baginya kemudahan dalam urusannya”. ( QS. At Thalaq: 4 ) Orang yang belum mendengar ayat ini mungkin masih sering merasa: ” aku ini sering berbuat semampuku, bertakwa dan beramal tetapi aku masih terus dalam kesulitan”, sekarang kita telah mendengar ayat ini dan kita tidak mendengarnya kecuali dengan izin Allah subhanahu wata’ala, maka percayalah dengan ketakwaan kita akan terbuka segala kemudahan, namun jangan beribadah kepada Allah karena untuk mendapatkan kemudahan, tetapi beribadahlah kepada Allah untuk ridha Allah , maka Allah akan memberimu kemudahan, karena takwa itu bukan ibadah untuk mendapat kemudahan tetapi takwa adalah beribadah kepada Allah maka Allah yang akan memberikan kemudahan karena kemudahan hanyalah milik-Nya. Kemudahan itu sendiri tidak memilikinya sendiri, tetapi kemudahan itu ada yang memilikinya yaitu Allah, jika kita mengarah kepada pemiliknya maka Sang pemilik pun telah berjanji bahwa “kemudahan dalam genggaman-Ku, dan yang mendekat kepada-Ku maka akan Kujadikan setiap masalah menjadi mudah”, janji Rabbul ‘alamin pemilik dunia dan akhirah, ambillah dan yakinlah dengan janji Allah yang telah kita dengar ini.

Hadirin hadirat yang dimuliakan Allah, Mudah-mudahan mulai malam ini kita terus berusaha untuk lebih baik lagi menjalankan perintah Allah semampu kita, serta berusaha lebih baik lagi untuk menjauhi larangan Allah dengan semampu kita dan berusaha memperbanyak doa memohon pengampunan kepada Allah subhanahu wata’ala, dan memohon kepada Allah dengan usaha kita yang sedikit ini agar disempurnakan, amal-amal kita yang buruk ini disempurnakan dan jadikanlah kemudahan dalam setiap permasalahan, kemudahan untuk semakin bertakwa, kemudahan untuk semakin berbuat baik, kemudahan untuk semakin tenang dalam beribadah. Bagaimana kita bisa tenang dalam beribadah, jika ketika saat takbiratul ihram saja kita sudah teringat dengan masalah-masalah kita, teringat dengan anak yang sedang sakit atau keluarga yang terkena musibah, bagaimana akan tenang wahai Rabbi..kini aku berusaha untuk mendekat kehadirat-Mu, maka perdekatlah dengan kemudahan-Mu wahai sang pemilik kemudahan. Firman Allah dalam hadits qudsy:

وَإِنْ تَقَرَّبَ إِلَيَّ بِشِبْرٍ تَقَرَّبْتُ إِلَيْهِ ذِرَاعًا ، وَإِنْ تَقَرَّبَ إِلَيَّ ذِرَاعًا تَقَرَّبْتُ إِلَيْهِ بَاعًا ، وَإِنْ أَتَانِيْ يَمْشِيْ أَتَيْتُهُ هَرْوَلَةً

” Barangsiapa yang mendekat padaKu dalam jarak sejengkal, maka Aku mendekat padanya dalam jarak sehasta dan barangsiapa yang mendekat padaKu dalam jarak sehasta, maka Aku mendekat padanya dalam jarak sedepa. Jikalau hambaKu itu mendatangi Aku dengan berjalan, maka Aku mendatanginya dengan bergegas-gegas.”

Kita berusaha bertakwa semampu kita, semampu kita merubah diri kita, maka Allah datang lebih cepat melimpahkan kemudahan dan penyelesaian bagi setiap kesulitan kita, itu adalah janji Rabbul ‘alamin. Maka buktikanlah karena engkau telah mendengarnya, kita tidak akan mendengarnya kecuali dengan izin-Nya, dan kita tidak mendengarnya kecuali Allah kehendaki kita untuk mendapatkan kemudahan itu, maka Allah menyeru kita untuk bertakwa, Allah menawarkan kepada kita maukah kita kemudahan, maukah penyelesaian dari setiap masalah, maukah limpahan rizki yang luas, dan Allah sampaikan kepada kita jawabannya adalah bertakwa kepada Allah.

Hadirin hadirat yang dimuliakan Allah,
Allah subhanahu wata’ala berfirman:

وَمَنْ يَتَّقِ اللَّهَ يُكَفِّرْ عَنْهُ سَيِّئَاتِهِ وَيُعْظِمْ لَهُ أَجْرًا ( الطلاق: 5 )

” Dan barangsiapa yang bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan menutupi kesalahan-kesalahannya dan akan melipat gandakan pahala baginya”. ( QS. At Thalaq: 5)

Lalu bagaimana dengan usiaku yang telah lewat dipenuhi dengan dosa apakh akan diampuni? mereka yang ikhlas bertobat kepada Allah, maka Allah menjawab dalam firman-Nya:

إِلَّا مَنْ تَابَ وَآَمَنَ وَعَمِلَ صَالِحًا فَأُولَئِكَ يُبَدِّلُ اللَّهُ سَيِّئَاتِهِمْ حَسَنَاتٍ وَكَانَ اللَّهُ غَفُورًا رَحِيمًا ( الفرقان: 70 )

” Kecuali orang-orang yang bertaubat, beriman dan mengerjakan amal saleh; maka kejahatan mereka diganti dengan kebajikan. Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”. ( QS.Al Furqan: 70 )

Ya Allah, alangkah indahnya Engkau…tumpukan dosa yang menggunung berubah menjadi pahala, kenapa? karena Aku (Allah) menginkan engkau bertobat kepada-Ku ( ) maka jangan kau risaukan dosa-dosamu karena akan Kugantikan dengan pahala jika engkau bertobat kepada-Ku. Alangkah indahnya Rabbul ‘alamin..

Hadirin hadirat yang dimuliakan Allah
Demikian orang-orang yang rindu kepada Allah, mereka dalam kebahagiaan di dunia dan akhirah. Rumah tangganya, usahanya, hari-harinya penuh dengan kemudahan, penuh dengan rahmah, penuh dengan kelembutan Allah subhanahu wata’ala. Hidupnya dalam rahmah, wafatnya dalam rahmah, dan di yaumul qiyamah bersama dengan rahmah Allah, bersama dengan Shahib rahmah yang dilimpahi rahmat oleh Allah, sayyidina Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam. Allah subhanahu wata’ala berfirman:

وَلَقَدْ كَتَبْنَا فِي الزَّبُورِ مِنْ بَعْدِ الذِّكْرِ أَنَّ الْأَرْضَ يَرِثُهَا عِبَادِيَ الصَّالِحُونَ ( الأنبياء: 105 )

“Dan sungguh telah Kami tulis di dalam Zabur sesudah (Kami tulis dalam) Lauh Mahfuzh, bahwasanya bumi ini diwariskan kepada hamba-hamba-Ku yang saleh”. ( QS. Al Anbiyaa: 105)

Sungguh telah Allah tentukan dan kabarkan mulai dari kitab-kitab sebelum Al qur’an, yaitu dalam kitab zabur yang diturunkan kepada nabi Daud As bahwa bumi akan mewariskan untuk hamba-hamba yang shalih, bumi ini adalah milik hamba-hamba Allah yang shalih, maka siapapun yang menjadi penguasa yang ada di bumi, maka kekuasaannya, hartanya, kemuliaannya diwariskan kepada para shalihin oleh Allah subhanahu wata’ala, apa maksudnya? maksudnya adalah Allah jadikan para shalihin itu berkuasa di dunia, semakin ia shalih maka semakin ia berkuasa dan kekuasaannya abadi, tidak sirna hanya dalam beberapa tahun saja. Kekuasaan shalihin abadi sedangkan kekuasaan yang lain hancur dan sirna, sebagaimana firman Allah subhanahu wata’ala:

أَفَلَمْ يَسِيرُوا فِي الْأَرْضِ فَيَنْظُرُوا كَيْفَ كَانَ عَاقِبَةُ الَّذِينَ مِنْ قَبْلِهِمْ دَمَّرَ اللَّهُ عَلَيْهِمْ وَلِلْكَافِرِينَ أَمْثَالُهَا،ذَلِكَ بِأَنَّ اللَّهَ مَوْلَى الَّذِينَ آَمَنُوا وَأَنَّ الْكَافِرِينَ لَا مَوْلَى لَهُمْ ( محمد: 10-11 )

” Maka apakah mereka tidak mengadakan perjalanan di muka bumi sehingga mereka dapat memperhatikan bagaimana kesudahan orang-orang yang sebelum mereka; Allah telah menimpakan kebinasaan atas mereka dan orang-orang kafir akan menerima (akibat-akibat) seperti itu, Yang demikian itu karena sesungguhnya Allah adalah pelindung orang-orang yang beriman dan karena sesungguhnya orang-orang kafir itu tiada mempunyai pelindung”. ( QS. Muhammad: 10-11)

Apakah mereka tidak melihat di permukaan bumi banyaknya yang kekuasaan dan kerajaan-kerajaan yang tidak menyembah Allah sirna dan hilang begitu saja, karena apa? karena orang beriman mempunyai Allah yang memiliki mereka dan memiliki bumi tapi mereka yang tidadk beriman itu tidak memiliki pelindung sehingga kekuasaannya sirna, hartanya hilang dipendam oleh bumi dan hilang begitu saja.

Hadirin hadirat yang dimuliakan Allah
Kita telah mendengar bagaimana kekuasaan para shalihin yang kekal dari Allah subhanahu wata’ala, orang-orang shalih umurnya tidak panjang, namun kemuliaan mereka tidak Allah sirnakan. Sebagai contoh kita lihat di Aceh, hanya dalam beberapa menit kurang lebih 300.000 orang wafat karena tsunami, tetapi mereka yang lari ke makam shalihin selamat, yang lari ke masjid para shalihin selamat, padahal mereka yang lari ke Tim SAR tetap saja wafat ditelan oleh air yang kecepatannya 300 km/jam, mobil tercepat sekalipun tidak bisa menghindar dari kecepatan air di saat itu, kekuatannya ratusan juta ton, dan tingginya mencapai 300 m, tetapi terbelah di perkuburan shalihin dan di masjid-masjid para shalihin, hal ini tidak pernah terjadi kecuali di zaman nabiyullah Musa As yang mana laut terbelah, ada apa dengan jenazah para shalihin? padahal mereka sudah wafat dan ruhnya sudah berada dalam kemuliaan, namun Allah subhanahu wata’ala yang mencintai mereka menjadikan jasad mereka yang bertakwa kepada Allah, jasad mereka yang shalih kepada Allah yang selalu mengikuti rahmat Allah subhanahu wata’ala, dan walaupun mereka telah wafat maka jasadnya menjadi rahmat bagi orang-orang yang hidup, mereka yang masih hidup justru selamat dari bahaya karena dekat dengan jasad para sahalihin, kejadian ini bukan terjadi dalam dongeng atau cerita tetapi hal ini adalah kejadian nyata dan diliput oleh seluruh media di dunia. Jadi, mereka para shalihin yang telah wafat sudah berada dalam kemuliaan, namun Allah Yang Maha Hidup mengabadikan kemuliaan mereka.

Hadirin hadirat yang dimuliakan Allah
Tidak mustahil bagi para shalihin dan shalihat untuk membuat apa-apa yang ada dengan doa dan munajat mereka suatu kejadian berubah, karena semua yang ada di permukaan bumi ini telah Allah wariskan kepada hamba-hamba yang shalih, sebagaimana sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam riwayat Shahih Al Bukhari:

أُوْتِيْتُ بِمَفَاتِيْحَ خَزَائِنِ الْأَرْضِ حَتَّى وُضِعَتْ فِيْ يَدِيْ

” Aku diberikan kunci kekayaan di muka bumi, sampai diletakkan di tanganku “

Semua kekayaan, semua pendaman singgasana kerajaan nabi Sulaiman, kerajaan ratu Balqis dan semua yang pernah ada, semua itu sudah berada di tangan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam. Dan setelah itu Rasulullah tidak meneruskan sabdanya, maka Abu Hurairah berkata: ” Rasulullah telah diberi oleh Allah seluruh pendaman kekayaan di bumi, dan akan datang waktu untuk kalian mengeluarkannya”, karena ada hadits yang tsiqah yang menjelaskan bahwa di akhir zaman Allah perintahkan kepada bumi untuk memuntahkan seluruh pendaman harta yang pernah ada, dari kerajaan nabi Sulaiman, dari singgasana ratu Balqis dan lainnya. Orang-orang Israel terus menggali bumi, menggali dibawah masjidil Aqsa untuk mencari singgasana raja Sulaiman, hal itu tidak akan mereka dapatkan karena waktunya akan dimunculkan oleh Allah di akhir zaman, untuk pembenahan muslimin dan muslimat di barat dan timur hingga kemakmuran ditumpahruahkan oleh Allah subhanahu wata’ala di akhir zaman kelak, ini adalah janji sayyidina Muhammad shallallalu ‘alaihi wasallam yang mana waktunya talah semakin dekat, beliau bersabda setelah beliau wafat akan datang gempa bumi, perpecahan, pembunuhan, dan banyaknya yang mengaku nabi dan setelah itu akan ditumpahruahkan kemakmuran. Dan kesemua itu telah terjadi, setelah itu kemakmuran akan muncul di hadapan kita, Allah akan perintahkan bumi untuk memuntahkan semua pendamannya pada waktunya, kalau belum waktunya maka tidak akan bisa dikeluarkan. Para shalihin mengetahui letak-letaknya, bahkan jangankan letaknya, merekapun bisa memunculkannya dimanapun jika mereka diberi izin oleh Allah, mana buktinya? Yaitu firman Allah dalam surah An Naml di masa nabi Sulaiman:

قَالَ يَا أَيُّهَا الْمَلَأُ أَيُّكُمْ يَأْتِينِي بِعَرْشِهَا قَبْلَ أَنْ يَأْتُونِي مُسْلِمِينَ ،قَالَ عِفْريتٌ مِنَ الْجِنِّ أَنَا آَتِيكَ بِهِ قَبْلَ أَنْ تَقُومَ مِنْ مَقَامِكَ وَإِنِّي عَلَيْهِ لَقَوِيٌّ أَمِينٌ ، قَالَ الَّذِي عِنْدَهُ عِلْمٌ مِنَ الْكِتَابِ أَنَا آَتِيكَ بِهِ قَبْلَ أَنْ يَرْتَدَّ إِلَيْكَ طَرْفُكَ فَلَمَّا رَآَهُ مُسْتَقِرًّا عِنْدَهُ قَالَ هَذَا مِنْ فَضْلِ رَبِّي لِيَبْلُوَنِي أَأَشْكُرُ أَمْ أَكْفُرُ وَمَنْ شَكَرَ فَإِنَّمَا يَشْكُرُ لِنَفْسِهِ وَمَنْ كَفَرَ فَإِنَّ رَبِّي غَنِيٌّ كَرِيمٌ ( النمل : 38-40 )

” Berkata Sulaiman: “Wahai pembesar-pembesar, siapakah di antara kamu sekalian yang sanggup membawa singgasananya kepadaku sebelum mereka datang kepadaku sebagai orang-orang yang berserah diri, berkata Ifrit (yang cerdik) dari golongan jin: “Aku akan datang kepadamu dengan membawa singgasana itu kepadamu sebelum kamu berdiri dari tempat dudukmu”, sesungguhnya aku benar-benar kuat untuk membawanya (dan) dapat dipercaya, berkatalah seorang yang mempunyai ilmu dari Al Kitab: “Aku akan membawa singgasana itu kepadamu sebelum matamu berkedip”. Maka tatkala Sulaiman melihat singgasana itu terletak di hadapannya, iapun berkata: “Ini termasuk kurnia Tuhanku untuk mencoba aku apakah aku bersyukur atau mengingkari (akan nikmat-Nya). dan barangsiapa yang bersyukur untuk (kebaikan) dirinya sendiri dan barangsiapa yang ingkar, maka sesungguhnya Tuhanku Maha Kaya lagi Maha Mulia”. ( QS.An Naml: 38-40 )

Nabi Sulaiman berkata:” siapa yang bisa membawakan singgasana ratu Balqis kehadapanku sekarang?”, maka salah seorang jin muslim dari ummat nabi Sulaiman berkata: ” aku yang akan membawakannya sebelum engkau berdiri dari singgasanamu”. Maka berkatalah seseorang yang mempunyai ilmu dari kitabAllah : ” wahai nabi Sulaiman, aku datangkan singgasana ratu Balqis sebelum engkau mengedipkan matamu”, maka dalam sekejap mata singgasana ratu Balqis telah berada di hadapan nabi Sulaiman As. Diriwayatkan dalam tafsir Ibn Katsir dan lainnya bahwa singgasana itu keluar dari bumi yang terpendam dan dalam waktu yang demikian singkat menembus perut bumi dan muncul dihadapan nabi Sulaiman dengan kehendak Allah pada ummat nabi Sulaiman yang shalih. Maka terlebih lagi ummat sayyidina Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam.

Hadirin hadirat yang dimuliakan Allah
Oleh sebab itu bukan hal yang mustahil jika Allah subhanahu wata’ala akan memberikan kemuliaan kepada mereka yang shalih. Semakin kita bertakwa maka kita akan semakin diberi kemudahan oleh Allah subhanahu wata’ala, itulah janji Allah subhanahu wata’ala. Maka jangan ragu, semakin kita mencintai Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, semakin dekat pula datangnya kemakmurann. Dinukil dari riwayat yang tsiqah bahwa di akhir zaman kelak, Allah akan menjadikan orang-orang shalih, orang-orang baik, orang-orang yang mencintai nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam menjadi kaya raya, karena ummat akan terus mendekat kepada mereka kalau saat ini justru sebaliknya,kekayaan Allah limpahkan kepada musuh-musuh Islam dan menjadi cobaan bagi muslimin, mereka yang bertahan mau atau tidak mau hidupnya menjadi susah, tetapi akan datang waktu yang sangat dekat, sebagaimana janji Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bahwa kekayaan dimunculkan dan akan dimiliki oleh para pecinta Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam sehingga semua orang mengarah kepada Shalihin, semua perdagangan mereka maju, semua usaha usaha mereka maju, semua peternakan mereka maju, semua pertanian mereka sukses dan lain sebagainya, namun orang-orang yang memusuhi Islam,perdagangan mereka hancur, peternakan hancur, pertaniannya terkena hama, saling hantam satu sama lain,dan sebagainya, kesemuanya dijadikan hancur oleh Allah subhanahu wata’ala hingga harta kekayaan mnegarah kepada para shalihin dan ummat mengarah kepada para shalihin maka di saat itulah kemakmuran terjadi. Dan ketika Rasulullah ditanya tentang keadaan di saat itu? Rasulullah menjawab : ” di masa itu mereka lebih mencintai sujud daripada dunia dan seisinya”. Jika telah banyak orang yang cinta sujud di dunia ini itu menandakan bahwa kemakmuran semakin dekat, semakin banyak orang yang mencintai Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam maka semakin dekat datangnya kemakmuran.

Hadirin hadirat yang dimuliakan Allah
Sampailah kita pada hadits agung, dimana sayyidina Anas Ra berkata: ” Kami menunggu Rasulullah untuk shalat isya’ hingga tengah malam, kemudian Rasulullah keluar dan menyampaikan tausiah sebentar, maka Rasulullah berkata: ” sebagian orang-orang yang tidak di masjid nabawy telah melaksanakan shalat isya’ dan telah tidur untuk istirahat, adapun kalian tetap mendapatkan pahala shalat selama kalian menantikan shalat itu”. Maka mulai dari adzan isya’ hingga Rasulullah keluar di tengah malam selama itulah mereka tetap mendapatkan pahala shalat karena mereka menunggu waktu shalat. Di majelis-majelis ta’lim kadang-kadang banyak yang menunda waktu shalatnya, maka hal yang seperti itu harus difahami karena sebagian orang mengatakan jika sudah adzan maka harus segera shalat, misalnya sedang dalam majelis ta’lim ketika telah masuk waktu shalat isya’, maka dikumandangkan adzan kemudian melanjutkan ta’limnya, sebagian mereka ada yang berkata: ” ini Guru faham agama apa tidak, sudah tiba waktu shalat dan harusnya shalat tepayt waktu!, justru ketika sudah duduk di masjid menunggu shalat itu mendapatkan pahala shalat, bahkan di masa Rasulullah shalat isya’ ditunda hingga tengah malam, karena dalam menunggu shalat itu mendapatkan pahala shalat. Berbeda dengan kita jika melambatkan waktu shalat karena urusan dunia kita tentunya hal ini tidak diperbolehkan. Dan ditambahkan oleh sayyidina Hasan bahwa “kalian dalam kebaikan selama kalian menanti kebaikan “. Ini yang ingin kita dalami makna kalimatnya, karena hadits ini diperjelas oleh sayyidina Hasan yang berkata: ” bahwa kita dalam kemuliaan selama menanti kemuliaan”, jika kita menantikan perjumpaan dengan Allah subhanahu wata’ala, maka sepanjang hidup kita terus dalam kemuliaan berjumpa dengan Allah subhanahu wata’ala. Kita menantikan saat berjumpa dengan Rasulullah sepanjang hidup kita, maka itu dihitung sebagai orang-orang yang menanti jumpa dengan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Hadirin hadirat, maka tunggulah, nantikanlah, cita-citakanlah perjumpaan dengan Allah dan Rasulullah, perjumpaan dengan khulafa’ ar rasyidin radiyallahu ‘anhum, perjumpaan dengan ahlul badr, para awliyaa Allah, para shalihin dan shalihat serta para imam-imam agung, maka waktu kita detik demi detik dihitung sebagai orang yang menanti perjumpaan itu dengan kebaikan, maka cita-citakanlah kemuliaan itu. Kita menginginkan kemakmuran di dunia dan akhirah , tetapi cita-citakanlah untuk berjumpa dengan Allah, karena Allah rindu pada orang yang rindu untuk berjumpa dengan-Nya,
Rasulullah bersabda bahwa Allah berfirman dalam hadits qudsy:

إِذَا أَحَبَّ عَبْدِيْ لِقَائِيْ أَحْبَبْتُ لِقَاءَهُ

” Jika seorang hamba ingin berjumpa dengan-Ku, maka Aku ingin berjumpa dengannya”

Kalau mulai sekarang kita sudah rindu berjumpa dengan Allah, maka Allah pun mulai rindu kepada kita. Jika Allah telah merindukan kita maka bukan berarti umur kita akan pendek dan Allah wafatkan kita, tidak demikian, justru ditambah oleh Allah supaya semakin lama mendapat kemuliaan dunia ini. Allah biarkan dia terus hidup dalam kerinduan yang panjang, sehingga Allah biarkan kerinduan )Allah mengalir pada kehidupannya , dan Allah beri dia kemudahan dalam kehidupan di dunianya, sebelum ia mencapai barzakh dan di hari kiamat ia semakin indah.

Hadirin hadirat yang dimuliakan Allah
Allah subhanahu wata’ala berfirman dalam hadits qudsy riwayat Shahih Muslim:

ياَ عِبَادِيْ إِنِّيْ حَرَّمْتُ الظُّلْمَ عَلَى نَفْسِيْ وَجَعَلْتُهُ بَيْنَكُمْ مُحَرَّماً فَلَا تَظَالَمُوْا

” Wahai sekalian hamba-Ku, sesungguhnya Aku telah mengharamkan kezhaliman atas diri-Ku, dan Aku telah menjadikannya sebagai perkara yang diharamkan antara sesama kalian, maka janganlah kalian saling menzhalimi”

Dijelaskan oleh hujjatul islam wa barakatul anam Al Imam Nawawy di dalam Syarah Nawawiyah ‘ala Shahih Muslim, maksudnya bukanlah Allah mengharamkan diri-Nya berbuat zhalim, karena sifat zhalim mustahil bagi dzat Allah subhanahu wata’ala, tetapi maksudnya adalah sebagai penyemangat untuk orang-orang bahwa Allah Maha Suci dari sifat yang zhalim, maka sucikanlah diri kalian dari sifat-sifat yang zhalim. Allah subhanahu wata’ala juga berfirman dalam hadits qudsy:

يَاعِبَادِيْ كُلُّكُمْ ضَالٌّ إِلَّا مَنْ هَدَيْتَهُ فَاسْتَهْدُوْنِيْ أَهْدِكُمْ

” Wahai hamba-hamba-Ku, semua kalian berada dalam kesesatan kecuali orang-orang yang telah Aku beri petunjuk, maka mintalah selalu petunjuk-Ku tentu Aku akan memberimu petunjuk”.

Jika menginginkan hidayah maka mintalah hidayah kepada Allah, dan kita telah dicintai oleh Allah subhanahu wata’ala karena Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

إِنَّ اللهَ يُعْطِي الْمَالَ لِمَنْ يُحِبُّ وَمَنْ لَا يُحِبُّ وَلَا يُعْطِي الْإِيْمَانَ إِلَّا مَنْ يُحِبُّ

” Allah memberikan harta kepada orang yang dicintai dan orang yang tidak dicintai, dan tidak memberikan iman kecuali kepada orang yang dicintai “

Pastikan dan fahami bahwa aku dan kalian beriman kepada Allah, tidak juga kita mau menyembah selain Allah, berarti Allah telah memberi hidayah kepada kita dan itu berarti Allah telah mencintai kita, karena sabda Rasulullah bahwa Allah subhanahu wata’ala tidak akan memberikan iman kecuali kepada orang yang dicintainya, maka itulah bukti bahwa aku dan kalian berada dalam naungan cinta Allah subhanahu wata’ala bahkan lebih dari itu , kehadiran kita di malam ini, Allah tidak akan mengizinkan kaki kita menginjakkan di majelis ini, kecuali telah Allah tetapkan bagi kita pengampunan, sebagaimana firman Allah dalam hadits qudsy riwayat shahihain Bukhari dan Muslim untuk mereka yang hadir di majelis dzikir :

أُشْهِدُكُمْ يَا مَلَائِكَتِيْ إِنِّي قَدْ غَفَرْتُ لَهُمْ

” Aku saksikan kepada kalian wahai malaikat-Ku, sungguh Aku telah mengampuni dosa mereka “.

Hadirin hadirat, inilah sambutan rahmat Ilahi, sedikit yang kita ketahui dan samudera keluasan yang akan tumpah kepada kita tidak kita ketahui, maka mohonlah, memintalah, berdoalah, bermunajatlah dan ingatlah bahwa kau selalu dalam doa nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam, sebagaimana riwayat Shahih Muslim : “mengalir air mata beliau ketika membaca ayat bahwa nabi Isa As melepas diri dari ummatnya yang berdosa, nabi Musa As melepas diri dari ummatnya yang berdosa”,maka menangislah sang nabi hingga turun Jibril As dan bertanya: ” Apa yang membuatmu menangis wahai Rasulullah?”, maka Rasul berkata: ” Ummatku, ummatku…sungguh aku tidak bisa melepas diri dari ummatku yang pendosa “, demikian cinta sayyidina Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam, tidak ada yang lebih mencintai kita dari Rasulullah, tidak di dunia dan tidak pula di akhirah, karena di akhirat kelak semua orang tidak mau mendekat dengan pendosa, seorang ayah tidak mau mengakui anaknya yang pendosa karena takut dituntut oleh anaknya, demikian pula seorang anak tidak juga mau mengakui ayahnya yang pendosa karena takut dituntut juga, demikian pula teman dengan teman, kekasih dengan kekasih, akan tetapi sayyidina Muhammad mengalirkan air mata dengan berkata: ” Wahai Jibril, aku tidak bisa meninggalkan ummatku yang pendosa”, demikian indahnya cinta beliau kepada kita, maka Jibril As naik dan menghadap Allah dan kemudian kembali kepada Rasulullah dan berkata: ” Wahai Rasulullah, Allah subhanahu wata’ala telah menjawabmu, Allah berkata: ” Aku tidak akan mengecewakanmu dengan masalah ummatmu”, engkau akan memberi syafaat kepada semua ummatmu walaupun mereka penuh dosa pasti mereka akan sampai ke surga Allah subhanahu wata’ala dengan syafaatmu”. Dengan tangisan air mata beliau untuk para pendosa dari ummatnya masih belia sayangi, jangan sampai mereka kekal di neraka, tentunya Allah memiliki hak untuk membersihkan dosa-dosa mereka di dalam neraka karena banyak berbuat kemunkaran, namun selama mereka tidak menyembah selain Allah, selama mereka mengakui nabi Muhammad utusan Allah, maka mereka di dalam naungan doa sayyidina Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam untuk sampai ke sorga Allah, mereka dalam tangisan air mata Rasulullah untuk masuk ke surga Allah, sehingga beliau bersbda:

مَنْ مَاتَ وَهُوَ يَعْلَمُ أَنَّهُ لَا إلَهَ إِلَّا الله دَخَلَ الْجَنَّةَ

” Barang siapa yang meninggal dan dia mengetahui bahwasanya tidak ada sesembahan yang berhak untuk disembah kecuali Allah, akan masuk surga”.

Namun tentunya bisa melewati neraka yang lama jika ia banyak berbuat dosa. Hadirin hadirat, kita bermunajat kepada Allah subhanahu wata’ala semoga Allah subhanahu wata’ala memuliakan kita di dunia, memuliakan kita di barzakh, memuliakan kita di akhirah, semoga Allah menjadikan kita semakin cinta kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam yang dengan itu membuka dan menjadikan kita untuk mencintai Allah subhanahu wata’ala Ya Rahman Ya Rahim, banyak diantara kami yang terkena musibah,kesulitan dan masalah dan kami semua telah mendengar firman-Mu bahwa barangsiapa yang bertakwa kepada-Mu maka akan Kau limpahkan kemudahan, dan Kau tumpahkan rizki tanpa kami sadari, dan kehadiran kami disini adalah bentuk ketakwaan maka limpahruahkanlah rizki kepada kami Ya Allah, rizki yang zhahir dan yang bathin dan limpahkan pula kemudahan dan penyelesaian dari setiap masalah-masalah kami, angkat segala kesulitan dan kesedihan serta anugerahkan kepada kami kebahagiaan di dunia dan akhirah, Ya Rahman Ya Rahim…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: